Bicara Jorok Selama Bercinta


Suami saya terlalu santun, dia sering tampak jengah saat kami bercinta saya menyebut nama-nama anatomis apa adanya baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia dan Jawa. Dia jadi kikuk.

TANYA 1:
Dengan pacar sekarang (pacar kelima, sudah enam bulan) saya sudah melakukan hubungan seks. Saya sangat menikmatinya. Tapi kadang saya terganggu karena akhir-akhir ini dia tidak menggunakan bahasa sandi atau istilah halus, terutama saat horny. Saya pernah menegur tapi dia tidak peduli dengan alasan namanya memang itu. Saya lebih senang dengan istilah “burung” dan “titit” untuk milik saya, atau “itumu” dan “kacang” untuk miliknya. Tapi dia dengan polos bisa bilang bahkan meneriakkan “k****l!”, “m***k!”, “i**l”, dan “ng****t!” saat horny. Saya jengah. Kenapa wanita baik-baik dan berpendidikan bisa begitu?

Si Doel (26), Jakarta

TANYA 2:
Saya pengantin baru, sedang senang-senangnya sama seks. Yang jadi masalah, suami saya sering blak-blakan vulgar ketika bercinta, menyebut semua genital dan aktivitas apa adanya, padahal waktu pacaran tidak. Saya kurang nyaman. Bagaimana menghentikannya tanpa membuatnya kehilangan gairah karena kalau gairahnya hilang saya juga yang rugi… hihihihi…

Medina (32), Depok

TANYA 3:
Saya pengantin baru, menikah dengan duda usia 50. Secara seks memuaskan tapi ada sedikit ganjalan. Suami saya terlalu santun, dia sering tampak jengah saat kami bercinta saya menyebut nama-nama anatomis apa adanya baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia dan Jawa. Dia jadi kikuk. Padahal pengalaman saya waktu lajang kalau bercinta dengan pasangan saya lebih merasa nikmat dan menyatu kalau kami blak-blakan, tentunya di luar ranjang itu jarang saya katakan kecuali dalam obrolan terutama gurauan terbatas sesama wanita. Bagaimana cara membiasakan suami saya?

Ninik (31), Jakarta

JAWAB:

Bagaimanapun juga bahasa itu menyangkut rasa dan norma, yang mana pada tingkat individual bisa berbeda-beda. Ada yang dapat sesuaikan diri dan ada yang tidak. Jadi siapa harus mengalah? Tidak ada rumusnya, karena semuanya proses yang ditentukan oleh waktu dan komunikasi.’

Bagi sebagian orang baik pria maupun wanita, menyebut hal-hal “tabu” adalah pelepasan dari kekangan sehari-hari karena hal itu tidak dapat diungkapkan asal-asalan. Ketika sedang bercinta dalam suasana intim penuh kemesraan, yang antara lain diwarnai keterbukaan (tanpa busana), maka nuansa terbuka apa adanya tanpa sekat perasaan malu/jengah bisa ditingkatkan dengan melepaskan kata-kata “terlarang”.

Kalau sudah berdua dan menyatu kenapa harus ada yang terlarang, demikian kira-kira alasan mereka. Manakah yang tepat untuk Anda dan pasangan biarlah waktu yang menjawab, namun apabila Anda sangat keberatan tentu berhak menolak. Misalnya tidak menuruti permintaan yang memuat kata-kata “terlarang” itu, dengan berbisik mesra, “Pake istilah lain dong, honey…”๐Ÿ˜‰